Skandal Beasiswa Rektor Darni

Mantan Rektor Unsyiah, Darni Daud, diminta mengembalikan miliaran dana beasiswa yang diambil dari rekening kampus. Darni membantah ada penyelewengan.


Surat itu berkop Universitas Syiah Kuala. Peneken surat adalah Profesor Samsul Rizal. Di balik bubuhan stempel tertera jabatan Samsul: Penjabat Rektor. Perihal surat yang bertanggal 21 Mei 2012 itu adalahpertanggungjawaban beasiswa. Surat ditujukan kepada Profesor Darni M. Daud, mantan Rektor Unsyiah.

Di dalam surat dijelaskan bahwa Samsul meminta Darni menyetor kembali sekitar Rp 7,3 miliar dana beasiswa yang pernah diberikan Pemerintah Aceh kepada kampus berjulukan ‘jantông haté rakyat Aceh’ itu. Ada tiga jenis beasiswa. Pertama beasiswa Jalur Pengembangan Daerah atau JPD tahun 2009 hingga 2012. Jumlahnya Rp 10,2 miliar lebih. Beasiswa yang sudah diambil Rp 6 miliar lebih. Jadi, sisa yang harus disetor sekitar Rp 4,2 miliar.

Lalu, ada beasiswa Guru Daerah Terpencil atau Gurdacil tahun 2012. Beasiswa ini berjumlah Rp 5 miliar lebih, yang terambil sekitar Rp 2,1 miliar. Sisanya, Rp 2,8 miliar lebih juga diminta setor.
Terakhir, beasiswa untuk program Strata 3 Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah tahun 2010/2011.  Jumlahnya Rp 1,3 miliar. Tersisa sekitar Rp 232 juta juga harus dipertanggungjawabkan Darni.
Kepada The Atjeh Times Samsul mengatakan setelah surat itu dikirim, Darni sudah mengembalikan Rp 1 miliar pada 2 Juli 2012.

Sebelumnya, Darni juga mengembalikan Rp 1,9 miliar pada 14 Mei 2012. “Tapi, itu uang USMU (Ujian Seleksi Masuk Universitas) tahun 2011, uang alumni, dan lain-lain,” ujar Samsul.
Ia sudah lama tahu kalau dana beasiswa itu belum kembali ke rekening Unsyiah. Sekitar Februari lalu, kata Samsul, ia ditelepon Dekan FKIP Unsyiah, Yusuf Aziz, yang meminta izin penarikan beasiswa Gurdacil di rekening bantuan umum Unsyiah. Tahun ini beasiswa tersebut diterima 286 guru. Tiap orang mendapatkan Rp 17 juta lebih selama setahun.

“Saat itu saya katakan ambil saja dulu 50 persen. Karena seingat saya uang itu tidak utuh lagi Rp 5 miliar. Pak Dekan berhasil menarik uang itu 50 persen,” ujar Samsul. Yusuf Aziz membenarkan omongan Samsul. Namun, ia lupa tanggal penarikan uang itu. “Akhirnya, saya ambil setengah saja,” ujar Yusuf.


Darni, kata Samsul, bahkan menarik dana beasiswa itu setelah tak lagi menjabat rektor. Pada 7 April 2012 Samsul pernah ditelepon manajer sebuah bank. Si manajer menceritakan kepada Samsul kalau Darni Daud marah-marah karena tidak dibolehkan mengambil uang di rekening bantuan umum Unsyiah.

“Tapi, akhirnya berhasil juga dia (Darni) tarik sejumlah Rp 190 juta,” ujar Samsul. Samsul juga tidak tahu pasti ke mana semua uang itu dibawa Darni.

Terpalang pagar beton, halaman belakang rumah itu jembar. Darni Daud, empunya rumah duduk leha di sebuah sofa. Darni hanya bersarung dan memakai koko putih. Rona santai menyelimuti wajahnya.
Sontak saja dahinya berkerut ketika The Atjeh Times menanyakan beasiswa yang belum dikembalikan itu. Darni membantah semua cerita Samsul.

“Itu hanya fitnah dan tidak ada penggelapan serta penyelewengan dana beasiswa,” ujar Darni, Selasa pekan lalu. Ia menegaskan sampai kini dirinya masih Rektor Unsyiah. “Belum ada proses pelantikan dan serah terima jabatan (rektor baru).”

Menurut Darni, sebelum ada serah terima jabatan tidak bisa dikatakan ada penggelapan beasiswa. Ia mengaku semua hal yang terjadi ketika ia menjadi menjadi rektor ada catatannya. Darni mengatakan akan mempertanggungjawabkan semuanya ketika serah terima jabatan.

Faktanya, pada 12 April lalu Senat Universitas Syiah Kuala secara aklamasi telah memilih Samsul Rizal sebagai Rektor Unsyiah definitif. Pemilihan itu dilakukan setelah keluar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137/MPK.A4/KP/2012 tanggal 29 Maret 2012. Dalam surat disebutkan mulai 2 Januari 2012 Darni M. Daud diberhentikan dengan hormat dari jabatan Rektor Unsyiah periode 2010-2014.

Kini, skandal beasiswa itu tercium Inspektorat Aceh. Syarifuddin Z., Kepala Inspektorat Aceh, mengatakan timnya sedang memeriksa beasiswa yang belum disetor Darni itu.
Senada Darni, Syarifuddin mengatakan hal itu belum bisa dikatakan penggelapan. “Karena belum ada laporan resmi dari Inspektorat Aceh. Saya belum menerima laporan resmi dari tim pemeriksaan,” ujar Syarifuddin, Jumat pekan lalu.

Dalam aturan pemeriksaan, kata dia, tim harus meminta tanggapan dari pihak terkait kasus itu. “Kemungkinan, tim belum meminta tanggapan dari Darni Daud,” ujar Syarifuddin.
Namun, Yusuf Aziz mengatakan tim inspektorat sudah melakukan audit padanya. “Saya katakan yang sebenarnya. Saya ceritakan uang yang saya ambil ini untuk apa penggunaannya,” ujar Yusuf. Ia mengaku tidak tahu bagaimana hasil audit itu.

Menurut Samsul, jika Darni tidak mau mengembalikan uang itu, Unsyiah akan mengembalikan persoalan tersebut kepada Inspektorat Aceh. “Terserah mau dibawa ke mana kasus ini,” ujar Samsul.

Inspektorat, kata dia, mulai memeriksa dana beasiswa itu sejak Maret 2012. Hasilnya, kata Samsul, sudah dilaporkan kepada dirinya sebagai Penjabat Rektor Unsyiah.

Adapun Darni, ketika dijumpai lagi pada Senin sore 9 Juli 2012, menolak berkomentar lagi soal beasiswa itu. “Nanti akan saya buat konferensi pers khusus. Ini sebuah konspirasi besar untuk menjegal saya menjadi rektor lagi,” ujar Darni tersenyum.

Di rumah dinasnya dalam kompleks Unsyiah, Darni buru-buru mengepak berkas. Ia bilang akan ke luar kota, tapi entah ke mana. atjehpost.com
Share on Google Plus

About Zulfajri Ery Syahputra

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar:

  1. Profesor yang pandai bersilat lidah..>,<

    ReplyDelete
  2. seorang profesor seharusnya lebih mengerti arti dari tata krama dan kejujuran ..

    ReplyDelete