Meugaca: “Tatoo ala Perempuan Aceh”



Oleh Zulfikar Akbar (*

Tattoo, umumnya cenderung diidentikkan sebagai simbol kelelakian. Atau, jikapun dipergunakan oleh sebagian perempuan, terkadang lebih ditujukan sebagai isyarat pemberontakan. Bahwa ada protes yang dicoba wakilkan lewat tattoo di tubuhnya. Beda halnya dengan meugaca (berinai) dengan oen gaca (inai) yang dijadikan bahan tattoo oleh perempuan Aceh. Tattoo di sini lebih sebagai simbol yang lebih mengentalkan aura keperempuan mereka, dan tentu saja membuat mereka terlihat semakin cantik. Seperti apakah dimaksud?

Meugaca (berinai) biasanya menjadi bagian upacara yang dikhususkan untuk pengantin perempuan, moment ketika seorang calon pengantin dirias pada malam sebelum ia duek sandeng (bersanding). Di sini, beberapa perempuan tua sudah menyiapkan sejumlah daun inai (daun pacar) yang sudah digiling halus. Mereka akan membubuhi daun inai yang telah dihaluskan tersebut di beberapa bagian tubuh gadis yang bakal melangsungkan pernikahan tersebut.

Lazimnya upacara inai. Biasanya bagian-bagian tubuh yang akan dipoles dengan gambar-gambar bervariasi adalah tangan dan kaki saja. Memang secara implisit tidak diterangkan mengenai alasan-alasan, kenapa hanya tangan dan kaki saja yang dipoles dengan riasan tattoo berbahan alamiah tersebut.

Tapi jika menghubungkan kultur masyarakat Aceh dengan kekentalan reliji islaminya, akan terketemukan logika fiqhiyah yang bahwa; hukum Islam hanya perkenankan perempuan untuk perlihatkan dua bagian tubuh saja pada yang bukan muhrimnya, yaitu tangan, selain wajah. Kemungkinan memang alasan tersebut pula yang menjadi penyebab sehingga dalam melukis tattoo ala perempuan Aceh tersebut hanya menjadikan tangan dan kaki sebagai bagian lukisan itu bertempat. Meski saya sendiri belum menemukan ketentuan soal bagaimana hukum memperlihatkan bagian ujung kaki.

Umumnya, upacara melukis tubuh gadis perawan demikian cenderung hanya dilakukan sekali saja dalam seumur hidupnya. Artinya, hanya dilakukan saat mereka menjelang pernikahan. Upacara itu pun dijadikan bagian dari keniscayaan merias diri untuk menyambut calon pasangan hidup, dengan bentuk terindahnya sebagai seorang perempuan. Sedang oen gaca (inai/daun pacar) yang dilukis pada dua bagian tubuh itu dipercaya akan kian menguatkan aura kecantikannya sebagai seorang perempuan. Benar saja, seorang perempuan yang sudah di-inai-kan memang akan terlihat lebih cantik dari biasanya.


Lepas ini berhubungan dengan sesuatu yang bersifat mistik atau tidak, tapi memang oen gaca tersebut bisa memberi dampak mistis demikian rupa.

Menelisik lagi, apa yang menyebabkan terjadinya efek begitu rupa? Tak bisa dipungkiri, memang dalam upacara pembubuhan tattoo di tubuh bakal pengantin perempuan itu, terdapat beberapa rangkaian upacara lain yang melengkapinya. Baik dari figur yang dipercaya untuk membubuhi oen gaca hanya beberapa perempuan tertentu yang sudah lebih tua, dan biasanya jadi panutan di tengah masyarakat. Juga, sering kali, adalah perempuan yang memang paham dengan tradisi oen gaca dimaksud.

Apalagi, dalam prosesnya, oen gaca itu juga tidak dibubuhi dengan lukisan-lukisan yang begitu saja. Baik dari seberapa halus oen gaca itu digiling, sampai dengan mantra-mantra atau doa yang harus dibaca saat bubuhkan setiap garis-garis yang dilukis di tubuh calon pengantin.

Kemudian, berkaitan dengan pilihan kenapa hanya daun inai/pacar saja yang dipilih sebagai bahan untuk tattoo tersebut. Lagi-lagi tidak lepas dari hukum Islam, bahwa jika bahan-bahan kimia bisa membuat wudhu tidak sampai ke tubuh, sedangkan itu menjadi bagian keniscayaan ibadah masyarakat Aceh yang notabene muslim---tapi tradisi melukis dengan inai juga dikenal di masyarakat Melayu, Makassar, dan beberapa etnis lainnya. Sedang inai memang tidak bermasalah dengan soal sah tidaknya wudhu. Karena inai, merujuk hadits (ketentuan Islam berdasar sabda Nabi Muhammad SAW) tidak membatalkan wudhu.

Dihubungkan lagi, kenapa inai menjadi pilihan? Alasan lebih lanjut bahwa inai adalah jenis tumbuh-tumbuhan, sesuatu yang memang sudah ada di alam. Jadi ada pesan tersirat bahwa idealnya perempuan itu harus cantik dengan sesuatu yang menyerupai alam. Bermakna bahwa kecantikan tersebut mengikuti jiwa alam yang apa adanya, tidak dibuat-buat, dan ia menyejukkan dengan kehijauannya.

Pun, laiknya inai, tetap nyala. Baik kecantikannya sebagai perempuan bisa terus nyala, juga menjelaskan bahwa sebagai perempuan ia juga menyimpan nyala kekuatan yang setimbang dengan kehijauannya.
Kekuatan yang kelak menjadi sesuatu yang membantu menguatkan lelaki yang menjadi suaminya.

Itu pula yang tersirat dari mantra kecil dalam proses membubuhi tattoo di tubuh perempuan bakal pengantin;

"lagee oen nyoe ijoe, lagee oen nyoe syit gata peuleupie hatee lakoe. Lagee gaca nyoe mirah, lagee nyan syit gata beujeuet bri seumangat keu judoe gata!" (terj: seperti daunnya yang hijau, seperti itu pula kau kelak bisa menyejukkan hati suami. Seperti inai ini demikian merah, seperti itu pula kelak kau bisa memberi semangat untuk suamimu).

***

Dikutip dari Protagoni Blog, Follow: @zoelfick
Share on Google Plus

About Zulfajri Ery Syahputra

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment